Bismillah...
Diko adalah baru saja memulai bisnis. Karena keterbatasan modal, ia memulai sebagai agen atau reseller tiket.
Keuntungannya mungkin belum seberapa, namun Diko sangat bahagia, ia bisa kerja dari rumah karena mayoritas pelanggannya memesan tiket secara online. Dan beberapa bulan ini, omsetnya terus naik.
Suatu hari, datanglah pamannya Diko, sebut saja namanya Heri. Pamannya ini adalah seorang professional yang sering terbang kesana sini untuk urusan pekerjaan. Dalam setahun, mungkin hanya 1-2 bulan ia ada dirumah, sisanya ia melanglang buana.
Ia mengetahui kalau Diko jualan tiket, dan akhirnya memutuskan membeli tiket dari Diko, karena mudah, bisa dadakan, bisa refund, dan yang paling penting: Bisa bayar belakangan.
Awalnya, Heri sangat mendukung bisnis Diko, selalu membeli tiket disana dan membayar didepan. Namun belakangan, karena kesibukannya, ia selalu telat membayar tiket ke Diko, dan lama kelamaan, Heri mulai berhutang.
Hutang pun awalnya masih lancar, setiap akhir bulan Heri selalu membayar hutangnya, sehingga Diko tidak keberatan, "namanya saudara sendiri, ya nggak apa-apa lah..." pikirnya.
Namun lama-kelamaan, tiket yang dibayar setiap bulan, mundur menjadi setiap 3 bulan, dan kemudian, tidak dibayar lagi sampai setahun kemudian.
Hingga suatu hari, bisnis Diko sedang diranda masalah, dan ia membutuhkan uang cash.
Diko lalu teringat dengan hutang-hutang yang dimiliki oleh Heri, ia berusaha memintanya dengan mengirimkan pesan melalui Whatsapp. Heri yang lagi sibuk hanya menjawab satu kata "sebentar".
Namun transferan tak kunjung datang, Diko yang sudah menanyakan 2 kali lalu merasa tidak enak harus terus mendesak pamannya tersebut.
Ternyata Heri bukan satu-satunya yang berhutang ke Diko, namun beberapa teman dekatnya juga. Saat ingin meminta, ia selalu merasa tidak enak hati.
Akhirnya bisnis tiket Diko kehabisan uang cash, dan terpaksa tutup sebelum masuk tahun ketiga.
Diko belajar pelajaran berharga:
"Hiroshima hancur karena bom, bisnis kecil hancur karena bon".
____
Pada dasarnya,setiap hari dalam kehidupan dan bisnis kita akan menghadapi tantangan baru.
Namun beberapa hal kita buat menjadi lebih rumit dari seharusnya, dan dari pengalaman saya, penyebabnya seringnya hanya satu.
Karena satu hal ini, sering kali masalah yang bisa selesai dengan mudah, jadi rumit. Sering kali satu kalimat sederhana, jadi tidak bisa diucapkan.
Satu hal ini adalah: sungkanan.
Atau dalam masyarakat kita sering juga disebut: Nggak enakan.
Saat saya melihat kebelakang, banyak sekali sumber masalah yang saya alami dan tidak selesai, semuanya karena saya merasa "nggak enakan" dengan lawan bicara saya. Takut dia tersinggung, takut dia marah, takut nanti dia tidak beli lagi ke saya, dll.
Padahal jika saja saya saat itu mengatakan apa yang seharusnya saya katakan, maka masalahnya tidak menjadi semakin rumit. Mungkin, dampak yang dihasilkan bisa saja positif atau negatif, namun satu hal yang saya pelajari, biasanya masalahnya selesai.
Mungkin Anda juga mengalaminya.
Sering nggak enakan menagih hutang karena saudara/ teman dekat.
Sering nggak enakan memecat walaupun pekerjaannya tidak bagus.
Sering nggak enakan mengingatkan orang yang menurut kita salah karena takut dibilang "sok suci".
Dan sebagainya.
Inilah yang memperumit masalah yang sebenarnya sederhana. Lagi, mungkin responnya tidak selalu positif, tapi paling tidak bisa "selesai".
Ada konsekuensi dari setiap pilihan kita, Anda tetap diam karena nggak enakan pun ada konsekuensi/ resikonya, Anda berbicara pun ada konsekuensi/ resikonya.
Namun, resikonya nggak enakan menurut saya sangat tinggi, hingga saat ini saya terus berlatih untuk membuang perasaan nggak enakan dan mulai lebih tegas ke diri saya sendiri.
Tegas bukan berarti kasar, tapi berpegang teguh dan terus maju dengan apa yang kita yakini benar.
Jika Anda pernah membaca Sirah Nabawiyah, maka Anda mungkin pernah mendengar kisah Pamannya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang bernama Abu Thalib.
Anda mungkin juga tahu kalau beliau akhirnya masuk neraka karena nggak enakan dengan Kaum Quraisy pada saat sakaratul maut.
Na'udzubillahi min dzalik..
-Fikry
____
Jika Anda merasa #SahurBiz bermanfaat, silahkan bagikan kepada teman-teman Anda dengan membagikan alamat ini >> http://kirim.email/sahurbiz
Anda adalah satu dari puluhan ribu orang yang menerima dan membaca email ini. Anda juga dapat mengirimkan email ke ribuan orang, langsung dengan cepat seperti yang saya lakukan menggunakan KIRIM.EMAIL. Silahkan daftar disini >> http://KIRIM.EMAIL

