Bismillah...
Ada seorang pria, sebut saja namanya Joni.
Joni baru saja selesai kuliah, cita-citanya adalah menjadi seorang pengusaha.
Namun, ayahnya memintanya untuk membantu bisnis teman ayahnya. Namanya Budi.
Sudah Dari dulu Joni ingin sekali memulai kedai kopi. Namun ia tidak tahu cara membuat kopi yang enak, Ia tidak punya modal, dan Ia tidak tahu apa-apa soal bisnis.
Ayahnya tidak mendukungnya sama sekali, dan lebih memilih Joni untuk bekerja di perusahaan Budi tersebut. "Perusahaannya sudah besar nak, kamu tinggal dateng dan kerja aja, nanti ayah telepon Budi". Begitu kata ayahnya.
Karena kondisi tersebut, Joni akhirnya pasrah dan mulai bekerja. "Ah bekerja sebentar saja, sampai cukup modal untuk memulai bisnis kedai kopi", pikirnya.
Baru beberapa hari saja dalam pekerjaan barunya, Joni sudah tidak betah, ia sama sekali tidak menikmati setiap detiknya berada di perusahaan Budi, akhirnya produktivitasnya parah sekali di perusahaan tersebut.
Beberapa staff perusahaan Budi yang lain mulai gerah melihat Joni yang bermalas-malasan, dan mulai melapor ke Budi, "Pak, itu anak baru ga bisa kerja pak! Pindahin aja dia jagain gudang pak, ga perlu ngapa-ngapain, tinggal duduk aja, jadi dia ga gangguin kita", kata salah seorang staff-nya Budi.
Budi merenung, berusaha mengolah apa yang terjadi di perusahaannya. Ia berpikir dalam hati: "Tanpa Ayahnya Joni, perusahaan ini mungkin sudah bangkrut 2x dan tidak akan sebesar sekarang. Jadi ga mungkin aku membuat Joni mengerjakan pekerjaan yang level bawah seperti menjaga gudang. Itu sama aja tidak menghargai Ayahnya Joni".
Namun hampir semua staff-nya Budi tidak tahu kondisi ini.
Disisi lain, produktivitas Joni yang rendah, akan merusak kinerja staff-nya yang lain.
Akhirnya, Budi memutuskan: "Ya sudah, Joni, kamu jadi asisten saya aja ya, kamu bantu menyusun jadwal saya, mempersiapkan meeting, mengontak kolega-kolega saya, dan hal-hal lain."
Budi berpikir, dengan begini ia bisa mengawasi Joni langsung.
Joni yang mendengar itu langsung mengatakan iya, karena toh dia berpikir mengerjakan apapun ya sama saja, karena ia memang pada dasarnya tidak mau bekerja.
Benar saja, kejadiannya terulang lagi, Joni kembali tidak bekerja dengan baik, banyak jadwal Budi jadi bertabrakan dan setiap kali meeting Joni malah yang paling sering terlambat dan hampir selalu datang disaat meeting sudah setengah jalan.
Budi bingung, kerusakannya malah jadi semakin besar...
____
Dalam kehidupan dan bisnis, menurut saya:
Orang yang paling menderita adalah yang berada diposisi tengah-tengah.
Kalau dalam olah raga tinju, disebut: draw.
Keduanya tidak ada yang menang.
Ingin membatalkan pernikahan karena merasa tidak cocok, tapi takut malu sama keluarga karena sudah lamaran. Akhirnya nikah juga.
Draw.
Ingin mulai bisnis karena terbayang waktunya bebas, tapi jadi PNS karena disuruh sama orang tua.
Draw.
Masih bekerja di satu perusahaan, namun ada pekerjaan atau bisnis sampingan untuk menambah pemasukan.
Draw
Ditengah-tengah.
Tidak penuh mengambil keputusan mau menjalankan A atau B. Tapi ditengah-tengah.
Dalam bisnis, contohnya Budi tadi.
Mungkin Anda pernah ingin memecat salah seorang staff Anda, namun tidak enak karena alasan dia anaknya temen/ investor/ sodara?
Atau mungkin Anda berpikir: "Kalau saya pecat, nanti anaknya gimana? Mau makan apa?"
Atau mungkin Anda saat ini ingin resign karena bisnis Anda mulai mendapatkan momentum, orderannya tiap bulan terus bertambah, rumah Anda sudah seperti gudang karena menyimpan stok barang terlalu banyak, tim Anda sudah menjerit karena overwork, atau bekerja berlebihan.
Tapi Anda TIDAK resign juga dari pekerjaan Anda sekarang karena takut orang tua atau istri atau mungkin mertua Anda marah?
Bisa jadi juga, mungkin memang perusahaan Anda saat ini lagi menurun kinerjanya, dan harus merampingkan perusahaan Anda dengan memecat beberapa orang agar bisa menghemat biaya. Namun Anda tidak memecat, dan memilih berhutang atau menjual rumah, mobil, tanah dan harta Anda yang lain.
Atau kondisi-kondisi lain yang menempatkan Anda ditengah-tengah.
Setiap pilihan ada konsekuensinya, saya tidak mengatakan mana yang benar, saya tidak tahu kondisi bisnis Anda.
Apakah ditengah-tengah itu salah? Belum tentu, yang saya tulis diatas adalah "menderita", bukan "salah".
Jika Anda mau dan siap menderita atas konsekuensi keputusan Anda, ya silahkan Anda jalani.
Saya punya kenalan seorang pebisnis yang bisnisnya pernah menurun drastis, ditipu partner, dan beberapa cobaan lain pada saat bersamaan. Sehingga ia tidak bisa membayar gaji karyawannya (total Rp.300 juta saat itu) karena ia hanya memiliki uang Rp.2 juta di bank.
Namun, walaupun berada di kondisi itu, ia TIDAK memecat satupun staff-nya.
Bagaimana kondisinya sekarang? Bisnisnya bertumbuh luar biasa pesat. Tim-nya solid, kokoh!
Pernah seorang manajernya ingin dibajak orang dengan tawaran gaji lebih, ia menolak. Staff-nya jadi loyal.
Ia sudah siap dengan konsekuensinya, siap menderita, dan menghadapi semuanya. Alhamdulillah ia selamat dan bisnisnya menjadi lebih baik.
Namun, di lapangan, kasus ditas TIDAK selalu terjadi, seringkali juga orang yang berada ditengah-tengah itu "menyalahkan".
Disinilah menurut saya masalahnya dimulai.
Menyalahkan keadaan, menyalahkan orang-orang yang ada di kiri-kanannya (karena ia ditengah).
Dan yang paling parah, menyalahkan alasan kenapa ia bekerja/ berbisnis, seperti istri, orang tua, anak, dll.
Saat sang istri berkata "papa, sesekali mainlah sama anak kita..."
Sang suami membalas:
"Aku ini harus jualan lagi abis pulang kerja buat kamu ya, jadi ya ngerti dikit donk".
Menyalahkan...
Tidak berada ditengah-tengah juga ada resikonya.
Saat Anda, memilih untuk resign karena ingin membesarkan bisnis, apakah bisnisnya pasti membesar dan hasilnya bisa memenuhi kebutuhan keluarga Anda seperti saat Anda bekerja di kantor dulu? Belum tentu.
Jadi, ambil pilihan Anda, mau ditengah-tengah dan mungkin menderita? Atau memilih satu sisi dan mungkin hasilnya juga belum tentu sesuai dengan yang Anda harapkan?
Sampai ketemu di #SahurBiz selanjutnya, InsyaAllah...
-Fikry
____
Jika Anda merasa #SahurBiz bermanfaat, silahkan bagikan kepada teman-teman Anda dengan membagikan alamat ini >> http://kirim.email/sahurbiz
Anda juga dapat mengirimkan email ke ribuan orang langsung seperti ini menggunakan KIRIM.EMAIL. Silahkan daftar disini >> http://KIRIM.EMAIL

